Salju

Jumat, 31 Mei 2013

GADIS LENTERA MALAM



“…..tit tit..” delete!
“tit…tit..” delete!
Ini sms yang kesian kali tak sempat untuk dibaca di delete saja. Isinya masih sama dari kemaren beberapa bulan yang lalu “ apa kabar?” atau “sudah makan?” dan “lagi ngapain?” aneh. Begitulah yang dirasakan Dara. Wanita anggun berparas oval berwajah oriental dengan kerudung sederhana tanpa bisa dimodel-model. Ribet itu alasannya.
Dia masih sibuk dengan kertas dan penanya, menyusun kata-kata, mengolahnya seperti membuat donat yang simple tapi nikmat untuk disantap. Hampir setiap jam bahkan menit dia harus menerima pesan yang inti pembicaraannya tidak jelas. Ia selalu mengabaikannya, bukan sombong tapi Dara tipe wanita bukan basa basi. Baginya basa basi adalah kependekkan dari kebohongan.
Satu tulisan kelar minggu ini, majalah langganan dara untuk mengirim artikel selalu bertanya “kapan lagi nih tulisannya mampir kerubrik kita?”. Kali ini dara membahas masalah “bahasa alay”, gadis ini sangat ilfeel jika harus membaca sms, status-status di sosial network bertulis jungkir balik dan harus memutar otak ribuan kali saat kata dipotong sepotong-potongnya contoh  “lagi “ menjadi “ge”, “sama” menjadi “ma” dll.
Beberapa bulan terakhir banyak pria mendekati Dara, dalam kapasitas kerja kadang kenalan dari teman dan sahabat pena yang membaca artikelnya. Gadis ini hanya menyikapi dengan dingin, biasa saja karena kebanyakan dari mereka hanya sekedar ingin kenal dan mendapat nasehat super dari Dara. Ya dara memang cocok menjadi Motivator, kata-katanya hampir seperti motivator terkenal Mario Teguh. Teduh, keibuan dan menusuk jiwa apalagi yang sedang galau.
Tahun ini genap usianya 26 tahun, usia yang sudah matang untuk berumah tangga, setiap kali pulang kerumah orang tuanya pertanyaan “kapan nikah?” selalu menyambutnya. Bagi Dara itu tidak masalah toh Jodoh Allah yang menentukan. Manusia hanya merencanakan. Pertanyaan klasik yang tak satu pun orang bisa menjawabnya.
Sepulang dari Kantor majalah langganannya Dara menuju sebuah Kafe untuk menghilangkan dahaga sekaligus menghindar dari terik matahari. Beberapa hari ini kota benar-benar dilanda kemarau yang panjang, pepohonan yang ditanam disekeliling jalan tak mampu membendung senjata dari langit itu.
Dara memilih duduk di bawah payung-payung untuk mendapatkan angin segar, sambil menikmati jus longan kesukaanyaan dan gemercik kolam ikan kecil disudut café. Sebuah suara menghentikan lamunannya “dara” panggil seseorang dari belakang.
“Farhan” terlihat raut dara terkejut dengan sosok seorang pria dihadapannya. Farhan teman sekolahnya di SMU lulusan Institut Kesenian Jakarta, sudah hampir 5 tahun ia tak pernah bertemu dengan pria ini. Wajahnya yang tampan, tinggi dan putih dulunya selalu menjadi rebutan para gadis-gadis kecuali Dara pada saat itu. Pertemuan itu sungguh diluar dugaannya. Mereka bercerita panjang lebar sekaligus reuni kemasa lalu.
“jadi sekarang kamu benar-benar hidup dari seni, bravo han, orang selalu beranggapan pekerja seni itu kere, buang-buang waktu dan hanya hidup sebagai glandangan tapi dari kacamata kamu semua itu salah, kamu entrepreneur sejati” pujian Dara sambil melemparkan senyum terbaiknya.
“ah biasa aja ra, kamu juga sukses jadi penulis, artikelmu sudah kemana-mana, tuh novel mu tentang malaikat dari hutan tropis bakal diangkat kelayar lebar kan? Sarjana Ekonomi yang kreatif” pujian balasan dari farhan mereka saling tetawa.
Pertemuan itu berakhir sebelum azan ashar berkumandang, biasa tukaran nomor atau PIN handphone selalu menjadi penutup yang manis.
Hari-hari yang dilalui Dara sama seperti hari biasanya, hanya saja kali ini ia lebih kerap memandang setiap sms yang masuk, dari siapa dan apa isinya. Itu terjadi setelah ia bertemu Farhan. Berbeda dengan pesan kebanyakan, pesan dari Farhan selalu ia tunggu bahkan detak jantungnya selalu berdebar setiap kali ponselnya berbunyi.
Farhan selalu berkomunikasi dengannya hampir setiap waktu walau hanya lewat sebuah pesan atau chat di social network, mulai terbangun hingga ia terlelap oleh hening malam. Awalnya Dara menikmati hal itu, entah karena ada benih sesuatu yang mulai tersemai di hatinya atau karena ia memang butuh seseorang yang gokil dalam kesehariannya yang lelah. Farhan selalu berbagi cerita lucu bahkan kadang membicarakan hal-hal yang berbau romantis, membuat hati Dara sedikit luluh karenannya.
Tetapi lama kelamaan Dara merasakan hal yang aneh, perasaan gelisah, takut, sakit dan perasaan-perasaan yang hilang timbul tanpa ia mengerti, setiap tulisannya terasa hambar, pikirannya tak bisa terkonsentrasi terhadap apa yang ia tulis, lebih menakutkan lagi wajah Farhan menghiasi setiap sudut di dalam otak kiri dan kanannya.
Malam yang hening, Dara bersimpuh di dua pertiga malamnya. Diatas sajadah, air mata gadis itu terjatuh berderai-derai, ia bermohon ampun kepada Sang Pencipta, yang menciptakan Hati beserta virus yang membusukkannya. Hatinya telah kotor memikirkan seseorang yang belum pantas untuk ia pikirkan, ibadahnya tercemar bahkan dalam sholat pun Dara memikirkan sosok pria bernama Farhan.
Dara malu kepada Sang Khalik terhadap prinsipnya selama ini “SAY NO TO PACARAN”. Walau Farhan belum benar-benar mengungkapkan perasaannya ke Dara tapi pria itu sang pembawa virus cinta ke hati Dara, menabur kata-kata indah nan romantis membuat Dara terlena.
“Ya Allah Engkau yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang, jika ia buruk bagi imanku jauhi ia dariku, jika ia baik bagi ku dekatkanlah, satukan kami dalam hubungan yang halal, jauhi aku dari maksiat dan zina, pertemukan aku dengan seseorang yang mencintaiku karenaMU Ya Kaarim”
Dara mengusap kedua tangannya kewajah cerahnya, kini air mata itu telah terhenti, curhat dengan Sang Pemilik Hati memang lebih lega. Dara menarik nafas panjang dan bertekad untuk tidak terbuai lagi kata-kata indah Farhan dan Farhan Farhan lainnya.
Pagi yang cerah setelah melewati malam yang penuh sahdu, Dara mengawali langkahnya dengan Basmalah, pesan singkat Farhan belum ia balas, ia bertekat untuk bertemu langsung dengan pria yang ia kenal sejak SMU itu untuk mendapatkan kepastian kemana hubungan mereka akan dibawa, apa hanya sekedar sahabat lama, atau kekasih untuk maksiat atau menjadikan dia sebagai pendamping hidupnya di dunia dan akhirat.
Dia tak mau terlalu larut dengan perasaan-perasaan yang tidak jelas, gadis itu terus menyibukkan dirinya, proyek besar sedang menunggu, Sutradara yang mengangkat novelnya kelayar lebar menawarkan gadis itu untuk bekerjasama. Hari berganti minggu, minggu berganti bulan tanpa sadar virus bernama Farhan terlupakan, pesan singkat yang pria itu kirim hanya terbalas seadanya.
Kini Dara kembali kepada normal, mungkin inilah jawaban dari doa-doanya. Kesempatan untuk bertemu pun semakin tipis, kesibukannya terus menumpuk bahkan dalam masa lengang pun ia tak lagi memikirkan pria itu. Hatinya benar-benar tejaga oleh Sang Khalik yang tak ingin wanita solehah terjamah oleh hidung belang yang hanya berniat untuk menguji imannya.
Terbukti, setelah beberapa lama gadis itu melupakan Farhan, pria itu muncul dipemberitaan majalah gosip, kedekatannya dengan beberapa artis dan foto-foto mesranya pun beredar di dunia maya.
“astaugfirullahalazim...ampuni hambamu ya Allah, mungkin hambamu yang hina ini pernah terjatuh dan hamba bersyukur Engkau masih memberi hamba kesempatan untuk melihat yang benar serta yang buruk. HasbunalLâh Wani’mal-Wakîl”, Cukuplah Allah menjadi Penolong kami dan Allah adalah sebaik-baik Pelindung”
Gadis itu mengakhiri dua per tiga malamnya dengan witir 3 rakaat. Hari ini ia tak ingin tertidur dan ingin menunggu hingga subuh dengan menulis sebuah artikel “gadis lentera malam”.                 
S E L E S A I

Senin, 27 Mei 2013

"terang"

Entah kemana arah terang itu.
Disaat aku mendekat ia terus menjauh,
dan saat aku menjauh ia terus mengejarku.

Terang itu menuntun aku dalam kegelapan.
Sesuatu yang aku benci.
Terang itu datang walau mataku terpejam rapat,
hangatnya, cahayanya menembus pelipis mata.

Entah bagaimanapula terang ini membawaku pada sebuah mesjid berkubah emas.
Lenteranya berhias kristal mewah.

Terang ini pula yang membiarkan aku gelap dibawah pohon rindang, malam ini.

Aku terhenti pada titik tempias terang itu.
Aku memandang dari sini,
pergilah jemput aku disaat pintu mesjid kubah emas itu terbuka.
Sambil kutatap sekeliling mesjid itu tak berdinding.

Aku menarik nafas panjang, tertunduk sayu.
Sehelai daun yang bkn kering dan bukan layu jatuh.
Aku tersenyum.
GB/26/05/13slp

HIDAYAH : MESJID KUBAH EMAS DARI BAWAH POHON RINDANG


               Kenalkan namaku Ratu Balqis, orang memanggilku kentut, atut, kadang hey. Aku sudah akrab dengan panggilan itu, aku hidup sendiri dikota besar, aku terbiasa mandiri. Menginjak dewasa aku tak mengenal yang namanya agama yang sejak lahir tercatat dicatatan sipilku, awalnya aku acuh dan tak pernah ingin mengetahui tentang Islam. Tapi semenjak aku mengenal seorang sahabat bernama Khusnul dia membuat aku tertarik mengenal Islam lebih dalam, ia menuntunku satu persatu rukun Islam yang menurutku jauh dari kehidupanku.
            Berawal pertemuanku diperpustakaan sekolah, khusnul yang diselimuti kerudung panjang yang hampir menutupi setengah tubuh bagian atasnya tersenyum penuh keteduhan membuat aku iri dengan pemilik senyum itu.
“sedang cari buku apa?” sapa khusnul dengan lembut
“ehhmmm gak ada cuman liat-liat aja” aku tergugup suara lembut khusnul berbeda dengan suara-suara yang selama ini aku dengar.
“kenalkan aku khusnul kelas XI A”khusnul menghulurkan tangan mungilnya yang hanya terlihat setengah jari-jari tangan
“ratu balqis XI D” aku sungkan menjabat tangannya, aku merasa aneh, dan aku berlalu tanpa menghiraukan tangan khusnul yang masih terjulur.
“datanglah ke markas kami Rohis disebelah ruangan UKS” teriakan khusnul.
Aku hanya mendengar sekilas tak sadar aku membawa buku “mengenal Islam karya Eko Haryanto Abu Ziyad”.
Aku berlalu dan melupakan peristiwa itu berminggu-minggu. Tepat ujian semester pertama, aku kembali lagi ke perpus, melewati rak kumpulan buku-buku agama islam, aku teringat khusnul dan ruangan Rohis. Entah apa yang aku bayangkan, ku tinggalkan tempat itu dan menyusuri ruang UKS, tepat disampingnya sebuah ruangan kecil penuh tanaman talas dan bunga kertas beragam warna terlihat indah mengapa tempat ini asing bagi ku, atau mungkin ia terletak disudut sekolah yang hampir tak terlihat.
Aku berdiri disamping pintu, tulisan dan kalimat-kalimat arab Terpampang dengan jelas didalamnya, aku hanya tahu kata Bismillah dan ucapkan assalamualaikum sebelum masuk. Terdengar olehku bisikan halus dan aku coba untuk mengintip di celah jendela. Khusnul gadis itu sepertinya sedang memberikan arahan kepada beberapa orang wanita, ada yang berkerudung sama sepertinya ada pula yang hanya menyarungnya sambil sesekali diperbaiki karena terjatuh, ada pula yang sama sepertiku.
Jantung ku berdetak kencang tanganku memegang erat sudut jendela, entah mengapa aku ingin menangis dan bahkan terjatuh, tanpa ku sadari aku menjatuhkan pot bunga disampingku membuat semua yang ada didalam memandang jendela dan aku bergegas lari sekencangnya. Terlihat khusnul mengejarku namun aku bisa bersembunyi dibalik pepohonan.
Ujian semester telah usai, waktunya liburan, semua teman saling memamerkan tempat yang akan mereka kunjungi.
“hey atut lu liburan kemana? Achh pasti di kamar bulukan lu kan haaa” seluruh kelas menertawakanku
“hey tut tut gak usah repot-repot dikampung sebelah ada kerajinan tembikar, ya udah lu kesono aja hahahaa”
Aku terbiasa dengan suara-suara itu, sebagai gadis yang kurang sempurna aku wajar mendapatkan perlakuan seperti itu. Sejak peristiwa kecelakaan bus yang menimpa rumah kami dan menewaskan ayah dan ibu ku, aku dititipkan di panti asuhan, dengan disiplin yang tinggi membuat bathinku meronta dan aku memilih hidup dijalanan hingga akhirnya sebuah keluarga sederhana menampungku.

Senin, 21 Januari 2013

Bagaimana kesabaran itu di uji?

Berbulan-bulan mencari rumah sewa yang murah tapi bagus, keliling kota menyusuri setiap jalan, gang-gang sempit, jawabannya masih sama, tidak ada. tetap masih dalam pencarian sesekali merebahkan tubuh didinding dan diatas kasur, ya sudahlah menyerah saja, terima apa yang ada, hufft.
Beberapa minggu kemudian setelah lelah mencari kesana kemari, akhirnya ku temukan sebuah rumah mungil dengan dua kamar berukuran sedang, komplit sumur, air tadah hujan "i like it" sewanya murah Alhamdullilah pencarian ku berakhir bisik hati.
ponsel ku berdering "ini mba yang nyari rumah tadi sore ya, begini mba rumahnya, maaf sebelumnya rumahnya sudah diambil Kasubbag sebuah Dinas, maaf mba saya gak tau" tubuhku rebah, hati ku kembali remuk, masyaallah kuatkan hambaMu.
pencarian pun aku hentikan.
"don't give up" selalu kuucapkan dalam hati kukepalkan jari-jari tangan, kucoba kembali menyusuri jalan ibu kota kecil yang panas menempuh setiap ruas jalan tikus kemungkinan disana ada terselip sebuah berkah yang besar. berkali-kali aku harus kecewa, info teman-teman kantor, teman dari teman semuanya turut membantu Alhamdullilah aku masih bersyukur akan keberadaan mereka yang terus memberikan support membuat aku semakin tekad dan kuat. berkat usaha dan do'a kepada yang Maha Pemilik Alam Semesta, ku temukan sebuah rumah bertingkat nan besar, posisi ditengah kota, molek, asri dan aman dengan sewa yang murah. Ya Allah sekali lagi aku tersenyum dan memanjatkan syukur tiada henti. mudah-mudahan ini lah awal tahun yang cerah.
kembali lagi aku harus di uji, seorang teman mengabarkan "pemilik rumahnya minta undur waktu, kemungkinan awal januari baru bisa rumahnya ditempati" kembali aku tertegun seerrrrr rasa didadaku Ya Allah jangan lagi ini gagal cukup kesabaran ini
"kita tunggu ya kak" jawab ku
Awal Januari yang dinantikan, kembali ponsel berdering " maaf dek, ibu belum bisa datang awal januari kemungkinan tanggal 10" emosi ku mulai melunjak, kemarahan telah sampai di ubun-ubun. Ingin aku membatalkan keputusanku untuk memiliki rumah itu. Di satu sisi aku sudah mencari rumah cadangan walau tidak berkenan dihatiku. Aku tertunduk didepan komputer yang hari-hari menemaniku diruang yang sempit ini, entah dari mana bisikan halus dihati "belajarlah untuk bersabar" kupejam kedua mataku dan aku katakan "aku masih sanggup menunggu"
Alhamdullilah buah dari kesabaran itu benar-benar manis dan aku beserta temanku dapat memiliki rumah cantik idaman kami, yang saat ini kutempati.
Bagaimana kesabaran itu di uji? Allah Maha Besar, Allah Maha Pengasih Dia tidak akan menguji hambanya melebihi kemampuannya. Allah tak akan membiarkan hambanya yang berusaha berputus asa begitu saja, begitulah aku menilai KebesarNYA. Dalam segala hal aku belajar untuk sabar, walau kata itu sederhana tapi butuh perlawanan yang sangat kuat. Sabar dalam Amarah, sabar dalam Menanti RezekiNya, sabar menanti JodohNya sabar dalam kesulitan, sabar dalam menunggu. Insya Allah Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengabulkan Do'a.

Serdadu Kumbang

setiap yang kau ucapkan adalah panah yang tajam
menusuk relung hati setengah kosong
aku menolak untuk tetap istiqomah dengan prinsip 'halal'

kubiarkan engkau memanah tepat pada sasaran yang dibidik yaitu HATI
tapi tak ku biarkan tembus.
kubiarkan ianya tertancap kokoh diatas hati yang lemah ini.

wahai serdadu kumbang....
kedua kaki ini mungkin lemah dengan hujamanmu
tapi HATI nan rapuh ini masih ada sedikit kekuatan menyentuh tangan yang lemah

tak akan kubiarkan panah panah itu menghancurkan HATI yang setengah kosong hitam tanpa merah
wahai serdadu kumbang...
tertawalah akan kelemahan ini berupa malu dan takut akan hukum Illah
teruslah memanah, aku masih kuat menahan.

kelak aku terjatuh dan hati ini tembus
engkau lah serdadu pilihan
ku pilih karena ketangguhanmu menghancurkan
dan kekuatan mu mengalahkan kekokohan Iman
karena Allah memilihmu untukku

@Gie_bustaf/slp,10.48 AM, 21 Jan 2013

Kamis, 22 November 2012

Debu di Hati


Ku lihat batu pecah dan butirannya menyebar menjadi debu
Kulihat disana angin membawanya
Dan kulihat butiran debu itu menempel diantara pohon, dinding dan bahkan pipi meronaku.

Aku tak mencoba untuk menyeka
Tapi aku bertanya kenapa aku harus membuangnya?
Aku kembali bertanya apa manfaatnya
Terus bertanya kapan bersihnya.

Hingga tumbuh sebuah jerawat besar yang ranum bertambah terus bertambah

Aku marah, debu itu..debu itu..membuat aku terlihat seperti monster alam yang menakutkan.
Aku kembali pada batu
Tapi disana hanya ada stepa yang tandus bersama debu yang berterbangan

Aku teriak “ hei batu kembali kau, aku akan memecahkan mu dan akan menjadikan ukiran besar dan kuat bukan menjadi debu”
Ku ulangi terus ku ulangi

Ada satu jawaban “pertanyaanmu itu jawabanku”.
GB-Slp/221112
#gazasolidaritas

Senin, 19 November 2012


PANGGIL AKU “ANAKKU” IBU
Tok...tok..tok..kucoba mengetuk pintu kamar ibu yang sejak semalam sore tak terbuka, setelah berdebat panjang dengan Herman adik bungsuku. Masih sama tak ada jawaban dari dalam.

“bu, buka pintunya, ibu belum makan, nanti mahnya tambah parah, jangan siksa diri seperti ini bu” dengan nada perlahan aku mencoba untuk membujuk ibu, nada putus asa terdengar di suaraku, aku menarik nafas tinggi, ibu masih tak memberikan jawaban walau itu sekedar batuk kecil yang ia selalu lakukan jika aku mengajaknya bicara.

Aku lemas didepan pintu, terduduk dan air mataku mengalir disudut pipi. Aku khawatir terjadi sesuatu kepada ibu. Tanpa pikir panjang aku berniat untuk mendobrak pintu dengan paksa.

Kubongkar perkakas bengkel ayah digudang belakang mencoba mencari sesuatu yang bisa aku guanakan untuk mendobrak pintu kamar ibu. Tanpa sadar sebuah kotak kayu tua terjatuh dari sudut ruangan. Awalnya aku mengacuhkannya tapi teringat pesan ayah “jika mengambil sesuatu kembalikan ketempat asalnya”. Walau aku tidak berniat untuk mengambil kotak tua itu paling tidak mengembalikan ketempatnya adalah pekerjaan yang harus aku lakukan. Dan aku ingin bengkel peninggalan ayah tetap tersusun rapi.

Kotak kayu itu terlihat usang dan tua, hatiku berfikir kenapa tidak dibuang saja. Tapi sepertinya kotak ini berisi sesuatu yang penting, karena tersimpan dengan rapi dan digembok yang sudah berkarat bahkan bisa dibuka dengan mudah. Dengan penuh penasaran aku mencoba untuk melihat isi didalamnya. Sebuah dokumen usang dan sebuah kompeng berwarna biru yang sudah lusuh, beberapa foto bayi yang lucu dan menggemaskan, dikelilingi kotoran kecoa dan kulit telur cicak yang telah menetas.

“SURAT KETERANGAN KELAHIRAN” dari Bidan yang ditulis tangan di secarik kertas yang hampir dimakan rayap.

Bukan judul atau pun bentuknya yang membuat aku tertegun tapi isi dari dokumen ini
“ telah lahir seorang anak wanita dengan berat 2,8 kg pada hari jum’at 9 Oktober 1985 dengan nama MUTIARA ARAFAH dari pasangan M. Sukri dan Maryana”

Tangan ku menggigil, kaki ku lemah, tubuhku rebah kelantai. Air mata kuderas mengalir, isak ku semakin kuat memecah bengkel yang hampir 6 tahun tak pernah ku kunjungi sejak meninggal ayah. Ayah yang ku panggil bertahun-tahun hingga akhir hayatnya.

Ingatanku kembali ke masa lalu disaat aku berusia 7 tahun, ibu tak pernah memanggilku dengan kata “nak”, diusiaku sedini itu aku sudah menjadi tulang punggung keluarga, membersihkan rumah, memasak, membantu ayah di bengkel dan menjualkan kue kesekolah. Semua ku lakukan dengan senang hati seperti pesan guru ngajiku saat itu “kita harus berbakti kepada orangtua”. Berbeda dengan saudara ku yang lain yang mendapat keistimewaan.

Aku membiayai sekolahku sendiri karena ibu selalu mengancamku jika aku meminta uang sekolah. Hingga aku lulus kuliah ibu tak pernah menyatakan kata-kata selamat dan nasehat ibu kepada anaknya.

“kau sudah tahu?” sebuah suara berat menghentikan tangisku
“ibu” jawabku dengan nada setengah terisak
“aku bukan ibumu, aku tak pernah memperlakukanmu seperti anakku, kenapa kau masih memanggilku ibu? Aku tak pantas kau panggil ibu, aku menyiayiakan mu, tapi kau selalu peduli padaku, saat anak kandungku yang kubesarkan dengan penuh kasih dan sayang, meninggalkan ku dan mencampakkan ku, kau merawatku dengan penuh pengabdian. Aku memperlakukanmu layaknya seorang pembantu, tapi kau jaga aku seperti permaisuri raja, apa pantas aku kau panggil “IBU”

“IBU” aku berlutut di kaki ibu, aku menangis terisak isak.
“IBU...aku butuh ridhamu, aku hanya ingin kau memanggil ku “ANAKKU”, aku memeluk kedua kaki ibu, aku tak peduli dia atau bukan ibuku yang aku tahu dialah ibuku.
“ANAKKU”

Aku terkejut tangisku terhenti aku memalingkan kepalaku menatap wajah ibu yang penuh air mata, kerutan di wajahnya seperti cahaya rembulan yang cerah, suara itu kata-kata itu lebih dari sejuta kata yang indah dimuka bumi ini. Ibu memelukku.
“anakku, berdirilah, maafkan ibu nak, semoga Allah memberikan mu tempat yang paling indah diakhirat kelak, ibu meridhaimu”

Aku tak bisa berkata-kata ku peluk erat tubuh ibu yang mulai lemah. Ibu menderita mah kronis, ia sering sakit-sakitan setelah kepergian ayah, ibu lebih banyak menyendiri karena tak seorang pun dari anak-anak ibu yang memperdulikan beliau. Aku terenyuh dan bahagia Ibu Ridha kepadaku, mendoakanku walau itu untuk terakhir kalinya.
اَللّهُمَّ اغْفِرْلِيْ وَلِوَالِدَيَّ وَارْحَمْهُمَاكَمَارَبَّيَانِيْ صَغِيْرَا.
“Alloohummaghfirlii waliwaalidayya war hamhumaa kama rabbayaanii shagiiraa”.

Aku tersenyum kepada dua nisan yang berdekatan, ayah dan ibu semoga Allah menempatkan mereka ditempat yang paling mulia disisiNYa.