Salju

Senin, 27 Mei 2013

"terang"

Entah kemana arah terang itu.
Disaat aku mendekat ia terus menjauh,
dan saat aku menjauh ia terus mengejarku.

Terang itu menuntun aku dalam kegelapan.
Sesuatu yang aku benci.
Terang itu datang walau mataku terpejam rapat,
hangatnya, cahayanya menembus pelipis mata.

Entah bagaimanapula terang ini membawaku pada sebuah mesjid berkubah emas.
Lenteranya berhias kristal mewah.

Terang ini pula yang membiarkan aku gelap dibawah pohon rindang, malam ini.

Aku terhenti pada titik tempias terang itu.
Aku memandang dari sini,
pergilah jemput aku disaat pintu mesjid kubah emas itu terbuka.
Sambil kutatap sekeliling mesjid itu tak berdinding.

Aku menarik nafas panjang, tertunduk sayu.
Sehelai daun yang bkn kering dan bukan layu jatuh.
Aku tersenyum.
GB/26/05/13slp

HIDAYAH : MESJID KUBAH EMAS DARI BAWAH POHON RINDANG


               Kenalkan namaku Ratu Balqis, orang memanggilku kentut, atut, kadang hey. Aku sudah akrab dengan panggilan itu, aku hidup sendiri dikota besar, aku terbiasa mandiri. Menginjak dewasa aku tak mengenal yang namanya agama yang sejak lahir tercatat dicatatan sipilku, awalnya aku acuh dan tak pernah ingin mengetahui tentang Islam. Tapi semenjak aku mengenal seorang sahabat bernama Khusnul dia membuat aku tertarik mengenal Islam lebih dalam, ia menuntunku satu persatu rukun Islam yang menurutku jauh dari kehidupanku.
            Berawal pertemuanku diperpustakaan sekolah, khusnul yang diselimuti kerudung panjang yang hampir menutupi setengah tubuh bagian atasnya tersenyum penuh keteduhan membuat aku iri dengan pemilik senyum itu.
“sedang cari buku apa?” sapa khusnul dengan lembut
“ehhmmm gak ada cuman liat-liat aja” aku tergugup suara lembut khusnul berbeda dengan suara-suara yang selama ini aku dengar.
“kenalkan aku khusnul kelas XI A”khusnul menghulurkan tangan mungilnya yang hanya terlihat setengah jari-jari tangan
“ratu balqis XI D” aku sungkan menjabat tangannya, aku merasa aneh, dan aku berlalu tanpa menghiraukan tangan khusnul yang masih terjulur.
“datanglah ke markas kami Rohis disebelah ruangan UKS” teriakan khusnul.
Aku hanya mendengar sekilas tak sadar aku membawa buku “mengenal Islam karya Eko Haryanto Abu Ziyad”.
Aku berlalu dan melupakan peristiwa itu berminggu-minggu. Tepat ujian semester pertama, aku kembali lagi ke perpus, melewati rak kumpulan buku-buku agama islam, aku teringat khusnul dan ruangan Rohis. Entah apa yang aku bayangkan, ku tinggalkan tempat itu dan menyusuri ruang UKS, tepat disampingnya sebuah ruangan kecil penuh tanaman talas dan bunga kertas beragam warna terlihat indah mengapa tempat ini asing bagi ku, atau mungkin ia terletak disudut sekolah yang hampir tak terlihat.
Aku berdiri disamping pintu, tulisan dan kalimat-kalimat arab Terpampang dengan jelas didalamnya, aku hanya tahu kata Bismillah dan ucapkan assalamualaikum sebelum masuk. Terdengar olehku bisikan halus dan aku coba untuk mengintip di celah jendela. Khusnul gadis itu sepertinya sedang memberikan arahan kepada beberapa orang wanita, ada yang berkerudung sama sepertinya ada pula yang hanya menyarungnya sambil sesekali diperbaiki karena terjatuh, ada pula yang sama sepertiku.
Jantung ku berdetak kencang tanganku memegang erat sudut jendela, entah mengapa aku ingin menangis dan bahkan terjatuh, tanpa ku sadari aku menjatuhkan pot bunga disampingku membuat semua yang ada didalam memandang jendela dan aku bergegas lari sekencangnya. Terlihat khusnul mengejarku namun aku bisa bersembunyi dibalik pepohonan.
Ujian semester telah usai, waktunya liburan, semua teman saling memamerkan tempat yang akan mereka kunjungi.
“hey atut lu liburan kemana? Achh pasti di kamar bulukan lu kan haaa” seluruh kelas menertawakanku
“hey tut tut gak usah repot-repot dikampung sebelah ada kerajinan tembikar, ya udah lu kesono aja hahahaa”
Aku terbiasa dengan suara-suara itu, sebagai gadis yang kurang sempurna aku wajar mendapatkan perlakuan seperti itu. Sejak peristiwa kecelakaan bus yang menimpa rumah kami dan menewaskan ayah dan ibu ku, aku dititipkan di panti asuhan, dengan disiplin yang tinggi membuat bathinku meronta dan aku memilih hidup dijalanan hingga akhirnya sebuah keluarga sederhana menampungku.

Senin, 21 Januari 2013

Bagaimana kesabaran itu di uji?

Berbulan-bulan mencari rumah sewa yang murah tapi bagus, keliling kota menyusuri setiap jalan, gang-gang sempit, jawabannya masih sama, tidak ada. tetap masih dalam pencarian sesekali merebahkan tubuh didinding dan diatas kasur, ya sudahlah menyerah saja, terima apa yang ada, hufft.
Beberapa minggu kemudian setelah lelah mencari kesana kemari, akhirnya ku temukan sebuah rumah mungil dengan dua kamar berukuran sedang, komplit sumur, air tadah hujan "i like it" sewanya murah Alhamdullilah pencarian ku berakhir bisik hati.
ponsel ku berdering "ini mba yang nyari rumah tadi sore ya, begini mba rumahnya, maaf sebelumnya rumahnya sudah diambil Kasubbag sebuah Dinas, maaf mba saya gak tau" tubuhku rebah, hati ku kembali remuk, masyaallah kuatkan hambaMu.
pencarian pun aku hentikan.
"don't give up" selalu kuucapkan dalam hati kukepalkan jari-jari tangan, kucoba kembali menyusuri jalan ibu kota kecil yang panas menempuh setiap ruas jalan tikus kemungkinan disana ada terselip sebuah berkah yang besar. berkali-kali aku harus kecewa, info teman-teman kantor, teman dari teman semuanya turut membantu Alhamdullilah aku masih bersyukur akan keberadaan mereka yang terus memberikan support membuat aku semakin tekad dan kuat. berkat usaha dan do'a kepada yang Maha Pemilik Alam Semesta, ku temukan sebuah rumah bertingkat nan besar, posisi ditengah kota, molek, asri dan aman dengan sewa yang murah. Ya Allah sekali lagi aku tersenyum dan memanjatkan syukur tiada henti. mudah-mudahan ini lah awal tahun yang cerah.
kembali lagi aku harus di uji, seorang teman mengabarkan "pemilik rumahnya minta undur waktu, kemungkinan awal januari baru bisa rumahnya ditempati" kembali aku tertegun seerrrrr rasa didadaku Ya Allah jangan lagi ini gagal cukup kesabaran ini
"kita tunggu ya kak" jawab ku
Awal Januari yang dinantikan, kembali ponsel berdering " maaf dek, ibu belum bisa datang awal januari kemungkinan tanggal 10" emosi ku mulai melunjak, kemarahan telah sampai di ubun-ubun. Ingin aku membatalkan keputusanku untuk memiliki rumah itu. Di satu sisi aku sudah mencari rumah cadangan walau tidak berkenan dihatiku. Aku tertunduk didepan komputer yang hari-hari menemaniku diruang yang sempit ini, entah dari mana bisikan halus dihati "belajarlah untuk bersabar" kupejam kedua mataku dan aku katakan "aku masih sanggup menunggu"
Alhamdullilah buah dari kesabaran itu benar-benar manis dan aku beserta temanku dapat memiliki rumah cantik idaman kami, yang saat ini kutempati.
Bagaimana kesabaran itu di uji? Allah Maha Besar, Allah Maha Pengasih Dia tidak akan menguji hambanya melebihi kemampuannya. Allah tak akan membiarkan hambanya yang berusaha berputus asa begitu saja, begitulah aku menilai KebesarNYA. Dalam segala hal aku belajar untuk sabar, walau kata itu sederhana tapi butuh perlawanan yang sangat kuat. Sabar dalam Amarah, sabar dalam Menanti RezekiNya, sabar menanti JodohNya sabar dalam kesulitan, sabar dalam menunggu. Insya Allah Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengabulkan Do'a.

Serdadu Kumbang

setiap yang kau ucapkan adalah panah yang tajam
menusuk relung hati setengah kosong
aku menolak untuk tetap istiqomah dengan prinsip 'halal'

kubiarkan engkau memanah tepat pada sasaran yang dibidik yaitu HATI
tapi tak ku biarkan tembus.
kubiarkan ianya tertancap kokoh diatas hati yang lemah ini.

wahai serdadu kumbang....
kedua kaki ini mungkin lemah dengan hujamanmu
tapi HATI nan rapuh ini masih ada sedikit kekuatan menyentuh tangan yang lemah

tak akan kubiarkan panah panah itu menghancurkan HATI yang setengah kosong hitam tanpa merah
wahai serdadu kumbang...
tertawalah akan kelemahan ini berupa malu dan takut akan hukum Illah
teruslah memanah, aku masih kuat menahan.

kelak aku terjatuh dan hati ini tembus
engkau lah serdadu pilihan
ku pilih karena ketangguhanmu menghancurkan
dan kekuatan mu mengalahkan kekokohan Iman
karena Allah memilihmu untukku

@Gie_bustaf/slp,10.48 AM, 21 Jan 2013

Kamis, 22 November 2012

Debu di Hati


Ku lihat batu pecah dan butirannya menyebar menjadi debu
Kulihat disana angin membawanya
Dan kulihat butiran debu itu menempel diantara pohon, dinding dan bahkan pipi meronaku.

Aku tak mencoba untuk menyeka
Tapi aku bertanya kenapa aku harus membuangnya?
Aku kembali bertanya apa manfaatnya
Terus bertanya kapan bersihnya.

Hingga tumbuh sebuah jerawat besar yang ranum bertambah terus bertambah

Aku marah, debu itu..debu itu..membuat aku terlihat seperti monster alam yang menakutkan.
Aku kembali pada batu
Tapi disana hanya ada stepa yang tandus bersama debu yang berterbangan

Aku teriak “ hei batu kembali kau, aku akan memecahkan mu dan akan menjadikan ukiran besar dan kuat bukan menjadi debu”
Ku ulangi terus ku ulangi

Ada satu jawaban “pertanyaanmu itu jawabanku”.
GB-Slp/221112
#gazasolidaritas

Senin, 19 November 2012


PANGGIL AKU “ANAKKU” IBU
Tok...tok..tok..kucoba mengetuk pintu kamar ibu yang sejak semalam sore tak terbuka, setelah berdebat panjang dengan Herman adik bungsuku. Masih sama tak ada jawaban dari dalam.

“bu, buka pintunya, ibu belum makan, nanti mahnya tambah parah, jangan siksa diri seperti ini bu” dengan nada perlahan aku mencoba untuk membujuk ibu, nada putus asa terdengar di suaraku, aku menarik nafas tinggi, ibu masih tak memberikan jawaban walau itu sekedar batuk kecil yang ia selalu lakukan jika aku mengajaknya bicara.

Aku lemas didepan pintu, terduduk dan air mataku mengalir disudut pipi. Aku khawatir terjadi sesuatu kepada ibu. Tanpa pikir panjang aku berniat untuk mendobrak pintu dengan paksa.

Kubongkar perkakas bengkel ayah digudang belakang mencoba mencari sesuatu yang bisa aku guanakan untuk mendobrak pintu kamar ibu. Tanpa sadar sebuah kotak kayu tua terjatuh dari sudut ruangan. Awalnya aku mengacuhkannya tapi teringat pesan ayah “jika mengambil sesuatu kembalikan ketempat asalnya”. Walau aku tidak berniat untuk mengambil kotak tua itu paling tidak mengembalikan ketempatnya adalah pekerjaan yang harus aku lakukan. Dan aku ingin bengkel peninggalan ayah tetap tersusun rapi.

Kotak kayu itu terlihat usang dan tua, hatiku berfikir kenapa tidak dibuang saja. Tapi sepertinya kotak ini berisi sesuatu yang penting, karena tersimpan dengan rapi dan digembok yang sudah berkarat bahkan bisa dibuka dengan mudah. Dengan penuh penasaran aku mencoba untuk melihat isi didalamnya. Sebuah dokumen usang dan sebuah kompeng berwarna biru yang sudah lusuh, beberapa foto bayi yang lucu dan menggemaskan, dikelilingi kotoran kecoa dan kulit telur cicak yang telah menetas.

“SURAT KETERANGAN KELAHIRAN” dari Bidan yang ditulis tangan di secarik kertas yang hampir dimakan rayap.

Bukan judul atau pun bentuknya yang membuat aku tertegun tapi isi dari dokumen ini
“ telah lahir seorang anak wanita dengan berat 2,8 kg pada hari jum’at 9 Oktober 1985 dengan nama MUTIARA ARAFAH dari pasangan M. Sukri dan Maryana”

Tangan ku menggigil, kaki ku lemah, tubuhku rebah kelantai. Air mata kuderas mengalir, isak ku semakin kuat memecah bengkel yang hampir 6 tahun tak pernah ku kunjungi sejak meninggal ayah. Ayah yang ku panggil bertahun-tahun hingga akhir hayatnya.

Ingatanku kembali ke masa lalu disaat aku berusia 7 tahun, ibu tak pernah memanggilku dengan kata “nak”, diusiaku sedini itu aku sudah menjadi tulang punggung keluarga, membersihkan rumah, memasak, membantu ayah di bengkel dan menjualkan kue kesekolah. Semua ku lakukan dengan senang hati seperti pesan guru ngajiku saat itu “kita harus berbakti kepada orangtua”. Berbeda dengan saudara ku yang lain yang mendapat keistimewaan.

Aku membiayai sekolahku sendiri karena ibu selalu mengancamku jika aku meminta uang sekolah. Hingga aku lulus kuliah ibu tak pernah menyatakan kata-kata selamat dan nasehat ibu kepada anaknya.

“kau sudah tahu?” sebuah suara berat menghentikan tangisku
“ibu” jawabku dengan nada setengah terisak
“aku bukan ibumu, aku tak pernah memperlakukanmu seperti anakku, kenapa kau masih memanggilku ibu? Aku tak pantas kau panggil ibu, aku menyiayiakan mu, tapi kau selalu peduli padaku, saat anak kandungku yang kubesarkan dengan penuh kasih dan sayang, meninggalkan ku dan mencampakkan ku, kau merawatku dengan penuh pengabdian. Aku memperlakukanmu layaknya seorang pembantu, tapi kau jaga aku seperti permaisuri raja, apa pantas aku kau panggil “IBU”

“IBU” aku berlutut di kaki ibu, aku menangis terisak isak.
“IBU...aku butuh ridhamu, aku hanya ingin kau memanggil ku “ANAKKU”, aku memeluk kedua kaki ibu, aku tak peduli dia atau bukan ibuku yang aku tahu dialah ibuku.
“ANAKKU”

Aku terkejut tangisku terhenti aku memalingkan kepalaku menatap wajah ibu yang penuh air mata, kerutan di wajahnya seperti cahaya rembulan yang cerah, suara itu kata-kata itu lebih dari sejuta kata yang indah dimuka bumi ini. Ibu memelukku.
“anakku, berdirilah, maafkan ibu nak, semoga Allah memberikan mu tempat yang paling indah diakhirat kelak, ibu meridhaimu”

Aku tak bisa berkata-kata ku peluk erat tubuh ibu yang mulai lemah. Ibu menderita mah kronis, ia sering sakit-sakitan setelah kepergian ayah, ibu lebih banyak menyendiri karena tak seorang pun dari anak-anak ibu yang memperdulikan beliau. Aku terenyuh dan bahagia Ibu Ridha kepadaku, mendoakanku walau itu untuk terakhir kalinya.
اَللّهُمَّ اغْفِرْلِيْ وَلِوَالِدَيَّ وَارْحَمْهُمَاكَمَارَبَّيَانِيْ صَغِيْرَا.
“Alloohummaghfirlii waliwaalidayya war hamhumaa kama rabbayaanii shagiiraa”.

Aku tersenyum kepada dua nisan yang berdekatan, ayah dan ibu semoga Allah menempatkan mereka ditempat yang paling mulia disisiNYa.


Rabu, 03 Oktober 2012

LARANGAN IMAM EMPAT TERHADAP ILMU KALAM DAN BERDEBAT DALAM MASALAH AGAMA


1. IMAM ABU HANIFAH

Putera Imam Abu Hanifah, yang namanya Hammad, menuturkan: “pada suatu hari ayah datang ke rumahku.waktu itu dirumah ada orang-orang yang sedang menekuni Ilmu Kalam, dan kita berdiskusi tentang suatu masalahtentu saja suara kami keras, sehingga tanpak ayah terganggu. Kemudian saya menemui beliau, “hai Hammad, siapa saja orang-orang itu?”, Tanya beliau. Saya menjawab dengan menyebutkan nama mereka satu per satu.”apa yang sedang kalian bicarakan?”, tanya beliau lagi. Saya menjawab :”ada satu masalah ini dan itu”. Kemudian beliau berkata,”hai Hammad, tinggalkanlah ilmu kalam”.

Kata Hammad selanjutnya:”padahal setahu saya, ayah tak pernah berubah pendapat, tidak pula menyuruh sesuatu kemudian melarangnya”. Hammad kemudian berkata kepada Beliau :”wahai ayahnda, bukankah ayahndapernah menyuruhku mempelajari ilmu kalam?”. “Ya, memang pernah”, jawab beliau. “tetapi itu dahulu. Sekarang saya melarangmu, jangan mempelajari ilmu kalam,”tambah beliau.
“kenapa?, wahai ayahnda?”, tanya Hammad lagi. Beliau menjawab, Wahai anakku, mereka yang berdebat dalam ilmu kalam, pada mulanya adalah bersatu pendapat dan agama mereka satu. Namun syetan mengganggu mereka sehingga mereka bermusuhan dan berbeda pendapat (Al-Makki, Manaqib Abu Hanifah, hal. 183-184).

Kepada Abu Yusuf, Imam Abu Hanifah berkata: “jangan sekali-kali kamu berbicara kepada orang-orang awam dalam masalah Ushuluddin dengan mengambil pendapat Ilmu Kalam, karena mereka akan mengikutikamu dan akan merepotkan kamu.

2. IMAM MALIK BIN ANAS

Imam Ibn ‘Abdil Bar meriwayatkan dari Mush’ab bin Abdullah az-Zubairi, katanya, Imam Malik pernah berkata:”saya tidak menyukai Ilmu Kalam dalam masalah agama, warga negeri ini juga tetap tidak menyukainya, dan melarangnya seperti membicarakan pendapat Jahm bin Safwan, masalah Qadar dan sebagainya. Mereka tidak menyukai Kalam kecuali di dalam terkandung amal. Adapun kalam didalam agama, bagi saya lebih baik diam saja, karena hal-hal diatas. (Jami’ Bayan al-Ilm wa al-Fadhilah, hal 415)
Imam al-Khatib al-Baghdadi meriwayatkan dari Ishaq bin Isa, katanya, saya mendengar Imam Malik berkata:”berdebat dalam agama itu aib (cacat)”. Beliau juga berkata:”setiap orang datang kepada kita, ia ingin berdebat. Apakah ia bermaksud agar kita ini menolakapa yang telah dibawa oleh malaikat Jibril kepada Nabi sallalahualaihiwassalam?”

Imam al-Harawi meriwayatkan dari Aisyah bin Abdul Aziz, katanya, saya mendengar Imam Malik berkata: “hindarilah bid’ah”. Kemudian ada orang bertanya:”apakah bid’ah itu, wahai AbuAbdillah?”. Imam Malik menjawab :” penganut Bid’ah itu adalah orang-orang yang membicarakan masalah nama-nama Allah, sifat-sifat Allah, Kalam Allah, Ilmu Allah dan qudrah Allah. Mereka tidak mau bersikap diam (tidak memperdebatkan) hal-hal yang justru para sahabat dan tabi’intidak membicarakannya”. (Dzamm al-Kalam, lembar 173-B)
Imam Abu Nu’aim meriwayatkan dari Imam Syafi’i, katanya, Imam Malik bin Anas, apabila kedatangan orang yang dalam agama mengikuti seleranya saja, beliau berkata: “tentang diri saya sendiri, saya sudah mendapatkan kejelasan tentang agama dari Tuhanku. Sementara anda masih ragu-ragu. Pergilah saja pada orang lain yang juga masih ragu-ragu dan debatlah dia”, (al-Hidayah, VI/324).